Di balik riuhnya lalu lintas dan denyut nadi ekonomi kawasan penyangga perkotaan, ada ribuan jiwa yang selama ini kerap terpinggirkan dari perhatian publik.

Sepanjang tahun 2025, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo mencatat angka yang cukup mengejutkan: ada 5.325 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) berat yang membutuhkan uluran tangan. Namun, bagi pemerintah setempat, angka tersebut bukanlah sekadar statistik. Itu adalah wajah-wajah yang membutuhkan akses kesehatan yang adil dan berkelanjutan.

Memetakan, Menjangkau, dan Memanusiakan

dr. Rahmi Affyanti Nisaul Khoiro, Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sidoarjo, menuturkan bahwa upaya jemput bola kini menjadi kunci. Melalui pemetaan wilayah, Dinkes mencoba menyisir hingga ke pelosok puskesmas untuk memastikan tidak ada lagi pasien yang terlewatkan.

Data menunjukkan bahwa wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi menjadi tantangan tersendiri. Kompleksitas persoalan sosial dan ekonomi di kawasan-kawasan inilah yang ditengarai menjadi salah satu pemicu tingginya angka tersebut.

Puskesmas dengan Pasien ODGJ Terbanyak
1 Puskesmas Taman
413
2 Puskesmas Sidoarjo
397
3 Puskesmas Waru
342

Kekuatan Kolaborasi Komunitas

Bagi dr. Rahmi, pengobatan medis saja tidak cukup. Dibutuhkan jejaring yang kuat hingga ke tingkat terbawah. Dinkes kini tengah menggencarkan kolaborasi yang melibatkan kader kesehatan, pemerintah desa, hingga tingkat RT/RW.

Melalui pemetaan ini kami berharap tidak ada lagi penderita yang terlewat dari layanan kesehatan. Kolaborasi dengan kader, pemerintah desa, hingga lingkungan RT/RW termasuk keluarga sangat penting agar setiap kasus dapat segera teridentifikasi dan memperoleh penanganan yang tepat.

dr. Rahmi Affyanti Nisaul Khoiro — Plt. Kabid P2P Dinkes Sidoarjo

Melangkah Lebih Awal

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo kini tidak hanya fokus pada kuratif atau pengobatan, tetapi juga bergeser pada upaya preventif. Melalui Integrasi Layanan Primer (ILP) dan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), skrining kesehatan jiwa kini diupayakan sedini mungkin.

Langkah ini adalah bentuk komitmen nyata agar kesehatan mental tidak lagi menjadi tabu. Dengan penguatan koordinasi lintas sektor — mulai dari pemerataan distribusi obat hingga edukasi keluarga — Sidoarjo sedang membangun jembatan bagi para ODGJ berat untuk mendapatkan hak mereka atas kehidupan yang lebih layak dan manusiawi.

Sumber: RRI.co.id — Dinkes Tangani Lima Ribu Lebih ODGJ Berat di Sidoarjo